PENDIDIKAN BERKUALITAS

HUT PGRi KE 67

Para Guru Melaksanakan Upacara HGN

Kita mafhumu sia pendidikan telah berjalan beriringan dengan usia peradaban  manusia. la ada dan terus berkembang karena tak bisa dipisahkan dari keberadan  manusia  pada .Pada dasarnya tak ada manusia yang tak membutuhkan pendidikan.

Hal itu dikarenakan adanya hasrat alamiah manusiawi. Hidup mesti lebih baik  dan lebih berkualitas dari sebelumnya. Sebab itu, perubahan merupakan konsekuensi yang logis dan penting. Yang dimaksud dengan perubahan ini adalah bergantinya tatanan dan nilai-nilai kehidupan yang tradisional  menjadi modern dalam arti kualitas.

Jika bersandar pada pernyataan di atas selain musabab keberadaan dan berkembangnya pendidikan hingga sekarang pendidikan ternyata memainkan peran yang utama dalam kehidupan dan peradaban. Tak hanya untuk individu melainkan pula untuk kulaitas sebuah bangsa. Karenanya, paradigm lama yang terlanjur mengasumsikan pendidikan sebagai sekolah formal semata-mata mesti segera dilipat dan digunting.

Pendidikan bukanlah sebidang ruang yang mengandaikan adanya guru untuk mencekoki peserta didiknya dengan berlembar-lembar teori. Itu pikiran using dan naïf. Pendidikan adalah napas di setiap aktivitas kehidupan. Semua aspek dalam kehidupan mestilah dijadikan arena pergulatan pendidikan.

Ini berarti pula bahwa pendidikan bukanlah milik segelinitir atau sekelompok orang yang berlimpah dana melainkan hak dan kewajiban semua anak bangsa. Karenanya, label pelajar jangan lagi hanya dilekatkan kepada peserta didik yang mengenyam bangku sekolah formal atau kampus-kampus universitas. Jika logika dan semangat keadilan semacam ini diterima maka apa yang disebut dengan learning society bukan lagi sekadar jargon.

Tak cukup hanya pada soal pemerataan, sebab pendidikan, sedari mula adanya, bercita-cita membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Masalahnya, bagaimanakah pendidikan yang berkualitas itu. Setidaknya, menurut hemat saya, pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang berorientasi untuk membentuk peserta didiknya menjadi subyek yang berperan bagi dirinya dan orang lain.

Pendidikan macam ini dituntut untuk mengembangkan keutuhan setiap peserta didik agar mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan semua kemampuannya. Baik aspek intelektual maupun emosionalnya dengan baik.

Menarik apa yang dikemukakan oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intellegency bahwa IQ hanya menyumbangkan 20 % dari kesuksesan seseorang. Sedangkan sisanya ditentukan oleh factor intelektual dan emosional. Kian jelaslah bahwa pendidikan yang berkualitas ternyata bukan menjuruskan (kalau tidak mau dikatakan menjerumuskan) pada kuat atau banyaknya hapalan sang peserta didik.

Adalah keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional bahkan kini ditambah dengan spiritual meruapakan titik tekan yang tak bisa ditawa-tawar lagi bagi institusi pendidikan modern. Dari sini ide dan cita-cita civil society (masyarakat modern) itu lahir. Sebaliknya betapa naïf hal itu akan bisa terwujud bila anak-anak bangsanya lost educated.

Agar pendidikan bangsa ini dapat menggapai cita-cita tersebut merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa untuk mencari dan mencipta terobosan-terobosan baru yang inovatif dalam setiap muatan kurikulumnya. Sejatinya, agenda tersebut memang bukan yntuk dipikul oleh pemerintah sendiri melainkan pula butuh control dan masukan dari pihak sekolah dan masyarakat pada umumnya. Hal itu berlaku mengingat pendidikan merupaka proyek besar idealis dan berkelanjutan. Alangkah gegabah jika pendidikan hanya diserahkan ke pundak pemerintah. Alih-alih beres malah dijadikan proyek politik yang cenderung berorientasi sesaat.

Tentu kita berharap pendidikan berkualitas bukan hanya cuap-cuap berbusa di arena kampanye lima tahunan. Sebab kita mafhum dan amat berharap pendidikan berkulaitas dapat menciptakan conscious community. Hanya lewat pendidikanlah masyarakat menjadi dewasa dan bijaksana. Sayangnya pada bangsa-bangsa yang belum maju seperti di negeri ini pendidikan tak jarang dipandang sebagai masalah besar yang memberatkan. Baik dari aspek ekonomi maupun yang lainnya. Padahal, jika direnungkan secara jernih dan mendalam pendidikan meruapakan conscientiacao  (meminjam istilah Freire) atau jalan keluar bagi siapa pun yang ingin bangkit dari keterpurukan hidupnya.

Dengan pendidikan para peserta didik (terutama dari kalangan yang kurang mampu diharapkan melek huruf, pandai menulis, cerdas berhitung, mandiri, berprestasi, dan berwawasan luas. Tak ada alasan sedikit pun yang pantas dibenarkan untuk pikiran-pikiran yang ingin mengganjal apalagi melenyapkannya.

Justru akses-akses sekecil apaun demi tumbuhkembangnya pendidikan mesti dibuka seluas mungkin sebab manfaat yang dapat dipetik darinya adalah ibarat lingkaran mutualistic : terbitnya pencerahan, terangnya alur hidup, kemudian berbagi untuk semua. Dalam prose ini tentunya telah terkandung daya belajar yang mempraktikan nilai-nilai modern. Terutama ihwal life skill sekaligus menjadikan peserta didik mampu mrengembangkan nilai-nilai social. Di sinilah kurikulum berbasis kompetensi yang akhir-akhir ini kerap digembar gemborkan itu mesti berpijak. Sebab, jika dijalankan secara ideal mengajarkan bersentuhan langsung dengan realitas, bergumul dan diuji secara ilmiah.

Kurikulum macam ini menuntut pendekatan yang ditekankan kepada peserta didik untuk lebih aktif dan terampil. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator (ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani). Sebaliknya, betapa sia-sia kurikulum bertambun-tambun teori namun kerempeng dengan kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik di tengah lingkungannya.

Kurikulum memainkan peran penting. Namun demikian kurikulum bukanlah satu-satunya solusi untuk memecahkan proses pendidikan yang telah jumud karena keterampilan dan kecerdasan seorang guru harus mendapatkan perhatian pula. Guru, sebagai ujung tombak pendidikan mesti benar-benar paham dan mampu mentransformasikan maksud yang terkandung dalam idealism kurikulum tersebut.

Hanya saja, karena segala hal tak bisa lepas sebab-akibat, guru yang demikian akan ada jika ilmu dan kebutuhan hidup sang guru tersebut sudah mumpuni. Kita tentu berharap tak ada lagi ironi dalam dunia pendidikan : satu sisi peserta didik mesti mendapatkan pendidikan berkualitas dan optimal. Namun, di lain sisi nasib guru tersengsarakan.

Artikel ini diambil dari Radar Banten, edisi 27 Nop. 2012, dalam menyambut Hari Guru Nasional.

Penulis : Badui U. Subhan

Pengajar di salah satu sekolah swasta

di Depok Jawa Barat.

Jika ada pihak yang keberatan denga artikel ini, silahkan hubungi saya

di Petir Fenomenal Contact me

Saya memposting semata-mata karena sangat tertarik dengan pandangan

dalam artikel ini.

2 thoughts on “PENDIDIKAN BERKUALITAS

    • Salam. Sebelumnya mohon maaf sy lambat membalas komentar-komentar yg ada situs ini karena kesibukan update di blog lainnya (petir-fenomenal.blogspot.com ). Ya, Pak Subhan, saya punya korannya, artikel itu sy ketik dari koran tsb, namun skrg entah ke mana tuh koran. Apakah Bapak Penulisnya. Salut Pak !

Silahkan Tinggalkan Komentar, Mohon jangan Spam. Spam dan cantuman link akan saya hapus !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s