Cara Tambang Emas Tradisional

Sebelum pada cara menambang emas itu bagaimana, saya ingin berbagi pengalaman dulu nih, pembaca !

Pada tahun 1992, baru satu setengah tahun saya lulus SMA, saya ikut usaha tambang emas bersama saudara saya yang sudah kawakan di bidang pertambangan emas rakyat.  Ketertarikan saya untuk ikut ini karena saya termasuk orang yang serba ingin tahu. Bukan semata-mata mencari yang diceritakan saudara sebelumnya, bahwa dalam 1 minggu saja kami bisa kebeli motor grand. Nyatanya tidak, karena lubang yang dituju sedang dalam sengkete sekelompok pengelola. Lubang yang menjadi sengketa tersebut merupakan lubang terkenal dengan hasilnya yang banyak dibanding dengan puluhan lubang yang ada di situ.

Pertambangan emas ini bukan pertambangan usaha pemerintah, sebenarnya adalah perusahaan tambang liar alias illegal, yakni pertambangan yang dilakukan masyarakat sekitar dan juga dari luar daerah yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Lokasi tambang yang saya ikuti ini terletak di Gunung Julang Kabupaten Rangkasbitung, Lebak. Berbatasan denga Kabupaten Bogor Jawa Barat. Dari Gajrug kami menuju Cinyiru. Dari Cinyiru ini kami naik ojeg dengan ongkosan 20 ribu saat itu, menuju Kampung Muara. Dari Muara kami menuju Kampung Julang dengan berjalan kaki. Perjalanan dengan jalan kaki ini membutuhkan lebih kurang 5 jam lamanya. Di Kampung Julang kami tiba sore hari, kemudian menginap di rumah RT (mantan tentara).

Pagi-pagi sekali kami berangkat menuju Gunung Julang yang menjadi lokasi tujuan. Jalan yang kami lalui sungguh membuat mental saya sempat miis (mental krupuk kali ye..). Jalan yang penuh liku-liku, jalan setapak penuh tanjakan dan turunan yang curam, jurang dan bukit yang sekali lengah bisa-bisa tergelincir ke jurang yang dalam. Singkat cerita, kami tiba di lokasi pukul 17.30 WIB. Bisa dibayangkan bukan, perjalanan 1 hari dengan rute yang ditempuh sangat menantang ! Ini kali pertama pengalaman saya. Pengalaman kedua di Gunung Cibuluh, dan ketiga di Gunung Pongkor Bogor, tidak akan saya ceritakan. Segono aja dulu ceritanya, sekarang saya akan ceritakan proses penambangannya. Ini versi pengalaman saya.

Alat dan Bahan :

  1. Gelundung

Gelundung ini terbuat dari besi baja. Gunanya untuk menggelundung menghancurkan batu

Gelundung Besar

Ilustrasi : Gelundung ukuran besar dipasang pada porosnya

  1. Palu ukuran 1 kg, 2 kg (sesuai kemauan)

Palu digunakan untuk menumbuk batu agar hancur menjadi bagian-bagian yang halus dan juga untuk memukul pahat ketika mengambil batu urat emas

  1. Mercury/kuik (di lokasi tidak ada yang menyebut mercury)

Bahan kimia ini digunakan untuk mengikat butiran-butiran emas

  1. Ember

Digunakan untuk wadah atau menakar batu halus yang dimasukan ke gelundung

  1. Gelang karet ban mobil,

Alat ini bisa dibuat sendiri, digunakan untuk menampung atau melingkari bongkahan batu yang akan dipecahkan agar tidak berserakan jauh.

  1. Tatah/pahat

Digunakan ketika mengambil batu di lubang dalam gunung, batu harus dipahat

  1. Besi pelor

Besi ini berbentuk potongan-potongan besi atau baja bulat atau pipih, dimasukan kedalam gelundung untuk menghancurkan batu yang mengandung emas (sebagai katalisator).

  1. Air

Dimasukan kedalam gelundung yang berisi batu untuk membantu menghancurkan batu,

  1. Karung

Batu yang diangkut dari lubang gunung ke gubuk dibungkus dengan karung

10. Saringan bahan kain parasut

Batu yang mengandung emas (urat)

Batu Mengandung Emas

Untuk menyaring emas dari kuik

11. Kayu

Proses menambang emas pada dasarnya sama saja baik yang tradisional maupun modern. Perbedaannya hanya pada sumber tenaga yang digunakan dan beberapa alat lainnya. Yang modern tentunya menggunakan mesin desel dan listrik.

Proses tradisional :

  1. Batu diambil dari lubang yang sudah digali di bagian kaki gunung, lubang ada yang arahnya mendatar, ada yang menyumur (seperti sumur timba). Menggali batu emas adalah mengikuti arah adanya batu urat emas tersebut.
  2. Batu diangkut ke gubuk tempat produksi lalu ditumbuk menggunakan alas tanah yang dilingkari dengan ban karet dibuat seperti gelang. Batu ditumbuk sampai halus (tidak halus betul)
  3. Tumbukkan batu di masukkan kedalam gelundung melalui pintu (lubang) gelundung sebanyak 2 sampai 4 ember kecil. Diberi air secukupnya (kurang lebih ¾ isi gelundung) dan diberi mercuri/kuik seberat kurang lebih 2 ons. Kemudian baja/ besi pelor dimasukan sebanyak 3 atau 4 potong. Lalu ditutup rapat.
  4. Gelundung diputar di tempatnya dengan menggunakan kincir air. Air ini berasal dari sungai dangkal di tempat itu sendiri. Karena memang kegiatan produksi dilakukan di pinggir-pinggir sungai jernih yang ada di atas gunung.
  5. Tunggu samapai 4 atau 5 jam gelundung berputar di porosnya sampai tidak terdengar lagi suara bising batu-batu yang digilas pelor.
  6. Hentikan putaran kincir, lalu buka lubang gelundung. Lubang gelundung dimiringkan untuk mengeluarkan batu yang sudah menjadi air bercampur kuik ditadahi dengan kain penyaring.
  7. Kain penyaring yang hanya berisi kuik dipulir lalu diperas sekuat mungkin untuk mengeluarkan kuiknya. Setelah selesai peras, buka kain penyaring, maka yang tinggal adalah reduksinya berupa emas. Emas hasil perasan ini berwarna putih persis seperti timah, berbentuk bagai kanji yang dilunakkan.
  8. Simpan untuk dijual, begitu seterusnya siang dan malam tak henti-hentinya tanpa mengenal istirahat sedikit pun.

Karena tanpa mengenal istirahat, maka dilakukan cara aplus/bergilir tiap sekian jamnya. Emas yang sudah terkumpul kemudian dijual kepada penampung (Bos) langsung di tempat itu. Saya masih ingat betul waktu itu harga per gram 12.000 rupiah. Harga emas di toko saat itu Rp25.000,00.

Emas yang masih murni berwarna putih itu disebut emas belion. Sebelum dijual biasanya emas yang masih berbentuk seperti adonan kanji ini dikeraskan dahulu dengan cara dibakar dengan alat khusus seperti alat las.

Demikian, semoga ada manfaatnya.

2 thoughts on “Cara Tambang Emas Tradisional

Silahkan Tinggalkan Komentar, Mohon jangan Spam. Spam dan cantuman link akan saya hapus !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s