Kumpulan Latar Belakang Skripsi

Pembelajaran Menulis Cerpen Melalui Teknik Menceritakan Kembali Siswa Kelas VII MIN.

LATAR BELAKANG

Menulis meruapakan suatu keterampilan berbahasa. Pengajaran bahasa adalah inti dan dasar bagi mata pelajaran-mata pelajaran lainnya, lebih-lebih bagi siswa sekolah tingkat dasar. Kegiatan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lainnya. Menulis merupakan suatu kegiatan yang dilakukan melalui proses atau tahapan-tahapan proses. Proses yang dilakukan dalam pembelajaran menulis di SD disesuaikan dengan tingkat kelas dan tingkat kesulitannya (Mulyati, 1999 : 65).

Melalui studi awal di MIN Baros Kabupaten Serang, tentang pembelajaran menulis cerpen, diperoleh informasi tentang hasil cerpen siswa dalam menulis cerpen belum menunjukan hasil cerpen yang baik. Hal ini di antaranya dapat terlihat pada penggunaan tanda baca, pemilihan kata, penggunaan kata sambung serta struktur kalimat yang tidak tepat baik dalam paragraf maupun dalam antarparagraf. Lebih spesifik lagi, hasil yang masih jauh dari harapan adalah penggunaan tentang alur mundur (kilas balik) dan sudut pandang yang ditulis dalam cerpen.

Dalam proses pembelajaran menulis cerpen, perlu adanya teknik yang mendukung kegiatan belajar siswa agar proses menulis cerpen cerpen dapat terlaksana dengan baik oleh karena itu penulis mencoba pembelajaran menulis cerpen cerpen dengan menggunakan dua teknik sekaligus yaitu teknik menceritakan kembali dengan kilas balik dan menceritakan kembali dengan mengubah sudut pandang. Dengan penggunaan teknik tersebut diharapkan dapat mengefektifkan pembelajaran khususnya untuk pembelajaran menulis cerpen cerpen, karena teknik ini akan mengarahkan siswa kepada keterlibatan dirinya dengan mengembangkan sejumlah schemata dan keterampilan seperti mengamati, mengingat kembali pengalamannya, mencatat, membuat tulisan dan sebagainya.

Ternyata salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan menulis cerpen siswa adalah kualitas pembelajaran, yang kurang dalam penggunaan berbagai teknik dalam setiap pembelajaran.

Penggunaan papan tulis sebagai media pembelajaran tanpa teknik yang selama ini digunakan oleh guru tidaklah efektif, karena siswa kurang termotivasi dan terinspirasi untuk mengungkapkan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Hal ini menyebabkan hasil yang didapat dari pembelajaran tersebut tidak optimal.
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu keterampilan berbahasa adalah keterampiulan menulis. Untuk memiliki keterampilan menulis tersebut tidak akan datang dengan sendirinya , akan tetapi seseorang harus berusaha dengan sungguh-sungguh melalui latihan secara terus menerus, baik dengan cara mandiri maupun dengan cara terpimpin melalui bimbingan seorang guru. Karena proses menulis merupakan proses yang berulang-ulang dan berkesinambungan. Tarigan (1986 : 22) mengemukakan bahwa “Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir. Juga dapat menolong kita berfikir kritis”. Oleh karena itu dalam pelajaran bahasa Indonesia keterampilan menulis perlu mendapatkan prioritas dan frekwensi latihan yang cukup.
Berdasarkan pendapat Tarigan di atas, jelaslah bahwa untuk menjadikan siswa terampil menulis dan mampu mengemukakan ide melalui tulisannya untuk mencapai suatu tujuan, dibutuhkan adanya bimbingan yang intensif dari seorang guru dengan ditunjang sarana dan teknik yang efektif, kreatif, dan inovatif. Teknik menceritakan kembali dengan kilas balik dan mengubah sudut pandang, dianggap teknik yang dapat membangkitkan motivasi dan kebermaknaan, termasuk dalam keterampilan menulis cerpen cerpen. Dengan menggunakan teknik tersebut dalam pembelajaran menulis cerpen, siswa akan lebih terkesan dan termotivasi untuk membuat sebuah cerpen dengan rasa senang penuh inspirasi.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul Pembelajaran Menulis Cerpen Melalui Teknik Menceritakan Kembali dengan Kilas Balik dan Teknik Menceritakan Kembali dengan Mengubah Sudut Pandang Siswa Kelas VII MIN Baros Kabupaten Serang Tahun Pelajaran 2010/2011
 Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Meneritakan Tokoh Idola melalui Metode Role Playing dalam Pembelajaran di SMP
LATAR BELAKANG
Salah satu tujuan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah siswa diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk  berkomukasi dan berinteraksi dalam berbagai situasi, baik situasi formal, non formal maupun informal. Di sekolah siswa diajari berbahasa sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Kompetensi yang diajarkan dan harus dikuasai siswa  dalam pembelajaran bahasa Indonesia meliputi keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Yang dalam bahasa Inggris disebut, listening skill, speaking skill, reading skill and writting skill.  Keempat keterampilan berbahasa ini diajarkan secara terpadu, karena keempat keterampilan berbahasa ini merupakan keterampilan yang bersifat caturtunggal.  Sedangkan materi pembelajarannya sangat banyak dan kompleks. Selain materi kebahasaan, dalam  pengajaran bahasa Indonesia juga meliputi materi apresiasi sastra. Apresiasi sastra ini secara variatif diajarkan  melalui kompetensi menyimak, menulis, membaca, dan berbicara.
Selama ini pengajaran bahasa Indonesia dirasakan kurang kreatif dan variatif. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya: kemampuan profesionalisme guru, tingkat kemampuan dan minat belajar siswa, serta fasilitas belajar yang relatif kurang memadai, dan lain-lain. Pengajaran bahasa Indonesia cenderung disampaikan secara monoton.  Siswa terlalu dibebani dengan kegiatan menyimak, menulis, dan membaca, sedangkan kompetensi berbicara kurang mendapat penekanan. Ketidakvariatifan pengajaran bahasa Indonesia ini juga terjadi dalam penyajian materinya.
Materi pengajaran yang diajarkan  oleh guru bahasa Indonesia,  pada umumnya terlalu bersifat umum,  atau kurang spesifik. Hal ini terjadi karena guru beranggapan bahwa menyimak, menulis, membaca, dan berbicara adalah sebagai materi pengajaran bahasa Indonesia. Menyimak, menulis, membaca, dan berbicara bukan materi pengajaran, melainkan kompetensi yang harus dikuasai atau dimiliki oleh siswa.
Materi pengajaran sastra pada jenjang pendidikan khususnya di tingkat SLTP, disinyalir kurang mendapat penekanan. Hal ini diawali dari kurangnya minat membaca, khususnya membaca karya-karya sastra, baik puisi maupun cerpen. Apalagi jika dihadapkan kepada buku novel yang notabene ukurannya sangat tebal, membuat para siswa bahkan guru enggan untuk membacanya. Dengan minimnya pengalaman membaca karya sastra, mengakibatkan minimnya pengetahuan tentang sastra. Dalam karya sastra banyak hal yang harus dikaji, baik unsurintrinsik, maupun unsur ektrinsiknya. Dalam unsur intrinsik suatu karya sastra (prosa) baik cerpen maupun novel, komponen-komponennya tema, amanat, alur, poin of few atau sudu pandang, latar atau setting, tokoh/penokohan, dan gaya bahasa.
Pengajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah mengajaran keterampilan berbahasa yang terdiri dati keterampilan reseptif dan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif yaitu keterampilan menyerap informasi melalui kegiatan menyimak dan membaca. sedangkan keterampilan produktif yaitu menyampaikan informasi melalui menulis dan berbicara.
Kemampuan-kemampuan berbahasa tersebut di atas pada hakikatnya bermuara pada terampilnya berbahasa, baik mendengarkan, berbicara, membaca, atau pun menulis. Manakah keterampilan dari keterampilan-keterampilan berbahasa tersebut yang tingkatannya lebih tinggi ? sebenarnya tidak ada yang menempati posisi lebih penting atau lebih tinggi. Akan tetapi berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa sering menjadi tujuan dalam berkomunikasi. Sehingga muncullah istilah retorika dan ilmu retorika. Retorika adalah ilmu yang mengkaji proses pernyataan antar manusia (kemahiran berbicara) demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya (Onong U., 2003 :3).
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa dalam kompetensi pengajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara kurang mendapat penekanan. faktor yang mempengaruhi kurangnya penekanan pengajaran berbicara ini yaitu karena rumitnya aspek-aspek dalam rubrik penilaian, terbatasnya waktu yang tersedia untuk melakukan penilaian, dan faktor malas dari guru itu sendiri. Karena rumitnya penilaian pembelajaran berbicara ini, maka guru yang melaksanakan pengajaran berbicara pun penilaiannya hanya dilakukan secara holistik saja dengan kriteria kurang, cukup, baik, dan amat baik.

Sejalan dengan paparan di atas maka penulis mengajukan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Meneritakan Tokoh Idola melalui Metode Role Playing dalam Pembelajaran di SMP Negeri 22 Serang Tahun Pelajaran 2010/2011.

Silahkan Tinggalkan Komentar, Mohon jangan Spam. Spam dan cantuman link akan saya hapus !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s