SUARA GURU BANTEN ANTARA KIPRAH DAN MINAT BACA

Oleh : Johari
(Ketua PGRI Cabang Curug Kota Serang)
                        PP No. 70 tahun 1991 tentang Pelaksanaan Undang-Undang nomor 4 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, mewajibkan tiap-tiap Provinsi memiliki Perpustakaan Daerah. Bahkan dalam perkembangannya perpustakaan di Indonesia semakin melembaga sampai tingkat kabupaten/kota, pun ada perpustakaan daerah. Lebih spesifik lagi, tanpa keterikatan dengan Undang-undang tersebut, perpustakaan melengkapi setiap lembaga sekolah dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Namun sudahkah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat pembaca? Sudahkah anak-anak kita gemar membaca? Sudahkah di kalangan guru Indonesia membaca menjadi suatu kebutuhan (kegemaran)?
                        Untuk menjawab  pertanyaan terakhir di atas, mungkin akan lebih bijaksana kalau berdasarkan data empiris/penelitian. Namun tanpa data empiris dan mungkin terdengar ekstrem, penulis berani mengatakan “belum”. Mengapa? Entahlah. Akan tetapi jika kita menoleh ke belakang, hampir semua guru di Jawa Barat waktu itu (waktu itu penulis masih duduk di SMP, tapi sering membaca majalah tsb.) menolak untuk membeli Majalah “Suara Daerah” satu eksemplar per guru, tapi cukup satu eksemplar per SD, mengindikasikan rendahnya minat baca di kalangan para guru. Padahal isinya amat berbobot dan bermanfaat serta relevan dengan dunia pendidikan. Dan hal itu berlanjut sampai sekarang khususnya di daerah Banten, setelah memisahkan diri dari Jawa Barat. Dan mengapa pula saat ini guru-guru tidak berinisiatif berlangganan sendiri Koran Lokal (Radar Banten), tapi tetap bergantung dari “langganan sekolahnya” yang itu pun atas treatment dari kebijakan Dinas Pendidikan agar tiap SD berlangganan Koran (khususnya di kabupaten/Kota Serang).
            Fenomena yang diungkapkan di atas tidak bermaksud penulis menjadikannya sebagai fakta untuk menggeneralisasi – mudah-mudahan itu tidak ada korelasinya.  Tetapi memang, kondisi minat baca masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu masih tetap menjadi polemik. Masyarakat bangsa ini sudah mengklim dirinya sendiri bahwa budaya bacanya sangat rendah. Namun seakan akan pemerintah kehabisan akal untuk mengubah masyarakatnya menjadi masyarakat berbudaya baca tinggi seperti yang diberitakan, di Jepang, misalnya. Padahal semua sadar, budaya baca masyarakat merupakan simbol tingginya budaya suatu bangsa. Banyak faktor penyebabnya, namun usaha peningkatan minat dan gemar membaca harus terus-menerus digalakkan melalui berbagai cara. Dan, pada tingkat SD adalah salah satu sarana yang sangat potensial untuk melakukan itu. Lalu apa sebenarnya tujuan upaya meningkatkan minat baca sehingga begitu “kamenah-menah” (Jawa: terlalu diupayakan) pemerintah? Karena mensejahterakan rakyat adalah kewajiban pemerintah. Salah satunya adalah peningkatan minat dan gemar  membaca untuk menjadikan kebiasaan, keterampilan dan kepandaian sebagai kebiasaan dan kegemaran. Sehingga tercipta masyarakat membaca menuju masyarakat pembelajar  yang pada gilirannya menjadi masyarakat yang madani (maju dan sejahtera).
            Kiat-kiat meningkatkan minat baca tentu saja suatu hal yang tidak mudah dan tidak sederhana. Banyak faktor yang menghambatnya.  Penghambat itu anatara lain adalah pertama, budaya lisan, masyarakat masih lebih senang mendengarkan ceramah daripada membaca. Kedua, kemajuan teknologi, disamping mendukung juga dapat menghambat. Tayangan TV lebih menarik daripada bacaan. Ketiga, pembangunan tidak merata, pembangunan yang tidak merata pada bidang-bidang terkait, hanya terpusat di kota-kota sehingga mengurangi kesempatan memperoleh bahan bacaan bagi masyarakat yang jauh dari kemajuan. Keempat, transportasi dan sebagainya. Namun sekali lagi, upaya ke arah pembudayaan gemar membaca harus terus dilakukan baik melalui kelembagaan maupun perorangan atau kelompok (semisal “Rumah Dunia” yang didirikan dan dipimpin oleh Gol A. Gong).
            KIPRAH SUARA GURU BANTEN
            Bukan tidak mungkin kita dapat membaca atau berlangganan majalah Jurnal terbitan Untirta, Mimbar Pendidikan UPI Bandung, STAIN, UNJ, dan lainnya. Majalah-majalah yang dimaksud itu semuanya sarat dengan kupasan tentang pendidikan yang patut dikonsumsi oleh kalangan para guru. Namun yang terdekat dengan kita bukanlah mereka, tapi Majalah Suara Guru Banten (SGB). Majalah SGB dengan kiprahnya tersendiri harus tampil lebih mempesona, menarik, dan berbobot.  Karena itu Majalah SGB harus memenuhi tugas dan fungsinya sebagai berikut :
a.         Pendidikan : memelihara dan menyediakan sarana untuk pengembangan profesionalisme guru pada semua tingkatan satuan pendidikan. Pada kaitan ini Majalah SGB harus lebih padat menyuguhkan kajian-kajian pendidikan berupa hasil penelitian guru atau para ahli, opini, dan juga teori-teori kependidikan
b.         Informasi : menyediakan kemudahan bagi guru untuk mendapatkan informasi kegiatan organisasi yang relevan atau tidak relevan dengan pendidikan dari berbagai daerah.
c.         Kebudayaan : pusat menghidupkan kebudayaan dan secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi budaya lokal maupun nasional, baik melalui kegiatan internal maupun eksternal (kemitraan).
d.        Rekreasi   : memberikan sarana bacaan rekreasi bagi pembaca, misalnya cerpen, teka-teki silang, puisi, dan sebagainya.
            Dengan demikian, dalam kondisi yang digambarkan di atas (minat baca lemah), diharapkan  Majalah SGB dapat dijadikan sebagai  menu utama untuk “konsumsi minimal” bagi guru di Banten dalam meningkatkan profesionalismenya lewat membaca. Yang pada gilirannya akan menimbulkan kebutuhan dan kehausan informasi sehingga selalu mencari dan mencari sumber bacaan yang lain sebagai nurturant effect yang justru inilah yang menjadi harapan.
            Sesungguhnya Majalah SGB telah memenuhi fungsi yang disebutkan pada poin b, c, dan d tersebut di atas . Namun Majalah SGB sebagai majalah suatu lembaga yang bertugas untuk menghimpun, menyimpan, menyediakan serta menyebarluaskan informasi, juga diharapkan mampu menggalang komunitasnya sendiri untuk menjadi bagian dari masyarakat pembaca. Pelayanan informasi melalui Majalah SGB yang dikelola oleh Pengurus PGRI Provinsi Banten  memang berbeda dengan usaha peningkatan minat dan gemar membaca yang diterapkan perpustakaan sekolah, tetapi keduanya tidak terpisahkan karena Majalah SGB diharapkan dapat mengambil bagian dan menjadi salah satu ujung tombak.
           
            MENGAPA MEMBACA?
                        Semua anak-anak yang duduk di kelas empat, misalnya, apabila ditanya mengenai penting tidaknya membaca, pasti mereka jawab “penting”. Apalagi kalau  yang ditanya orang dewasa! Tapi apakah jawaban tadi menjadi jaminan bahwa orang tersebut adalah orang yang senang membaca? Tentu saja sama sekali tidak. Kecuali pertanyaannya diganti dengan “Berapa kali Anda membaca dalam sehari?” Atau “Berapa jam Anda membaca dalam sehari?” dan sebagainya.
       Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa seseorang yang tidak senang membaca bukan berarti ia tidak memahami pentingnya membaca. Berarti modal pemahaman pentingnya membaca sudah mereka miliki. Pada kaitan inilah Majalah SGB dapat diperankan menjadi agen of change yang mengubah kultur masa bodo menjadi kultur selalu serba ingin tahu (intellectual curiosity). Tentunya dengan melalui berbagai pendekatan teknis dan non teknis yang dilakukan Majalah SGB, antara lain : majalah SGB hendaknya terus membangun trust (kepercayaan) dari segi layanan. Meningkatkan kualitas dalam memberikan layanan secara cepat, tepat dan akurat, mutlak harus dilakukan. Karena trust sangat tergantung kepada citra dari layanan dan informasi. Artinya, kegiatan layanan dan “mutu informasi” Majalah SGB (poin a) menjadi barometer keberhasilan meningkatkan animo pembaca. Dengan trust ini Majalah SGB akan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.

                        Yang jelas dari membaca kita dapat memperoleh dan menangkap, artinya mengerti maksud apa yang dibaca dan menjadikan bahan tambahan pengetahuan. Bila bertambah pengetahuan akan bertambah gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran. Dan pada gilirannya gagasan-gagasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu.  Bukankah negeri ini membutuhkan warganya yang dapat melakukan sesuatu? Bukankah guru semakin dituntut untuk memiliki excellence competence ? Berbuatlah sesuatu sekecil apa pun daripada tidak sama sekali. Dan, Majalah SGB yang punya sumber  ilmu tugasnya menyampaikan informasi kepada yang paham pentingnya membaca, namun belum gemar membaca, dengan cara antara lain seperti yang disebutkan di atas. Semoga…

Silahkan Tinggalkan Komentar, Mohon jangan Spam. Spam dan cantuman link akan saya hapus !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s